From Jakarta to Jogjakarta
Hari ini Jumat 7 Agustus 2009 pukul 05.30 Aku, istri dan babyku pergi ke Jogjakarta, selain untuk berlibur menjenguk simbah Jogja juga untuk menghadiri pernikahan mbakku. Keberangkatanku hari ini melalui sebuah proses yang panjang dari rencana sebelumnya akan ke Jogja hari Sabtu 8 Agustus 2009. Pukul 03.55 aku bangun untuk mempersiapkan segala sesuatu. Tiba-tiba pukul o4.40 air dalam bak habis dan kran airpun mati, mau membangunkan ibu kost tidak enak karena habis melahirkan bayi. Namun akhirnya kita nekat pukul 05.10 meminta ibu kost untuk menghidupkan air. Istri, Ayuk dan akupun akhirnya mandi dengan sedikit tergesa-gesa karena pukul 05.30 kita harus on the way menuju stasiun. Akhirnya pukul 05.35 Ayuk naik 86 menuju permata hijau dilanjutkan menuju Merak Banten, sementara Aku, istri dan anakku naik 86 menuju Slipi, P6 menuju Uki Cawang, 06A menuju St.Jatinegara.
Pukul 06.45 akhirnya kami sampai di St.Jatinegara, namun kereta Fajar utama Jogjakarta ternyata sudah lewat.Sebagai alternatif kamipun membeli karcis kereta bisnis Sawunggaluh II Jakarta-Kutoarjo. Kamipun harus menunggu kedatangan kereta dari pukul 07.00 hingga pukul 08.45 wib. Dalam kami menunggu kami bertemu seorang bapak yang berasal dari Banten yang akan menuju ITB Bandung dengan kereta Parahyangan yang berangkat pukul 08.40 wib. Bapak itu dengan panjang lebar memberikan ilmu agama kepada kami sebagai pasangan suami istri, juga ilmu pengetahuan tentang fakultas apa yang paling menonjol di beberapa kampus terkemuka di Indonesia, mulai dari UGM, UI, ITB hingga Binus. Bapak itu merupakan seorang konsultan pembangunan rumah dan gedung, bahkan pengetahuannya yang pernah berkunjung ke Mekah, Madinah Vatikan dan beberapa negara lainnya sebagai referensi dalam dunia arsitektur. Dalam hatiku bertanya bapak yang baik dan ilmu yang banyak dia miliki baik ilmu agama maupun duniawi yang tentunya akan membawa keseimbangan hidup di dunia dan akhirat. Semoga pertemuanku yang singkat memberiku inspirasi untuk maju menuntut ilmu dan berkarya, amien.
Pukul 08.50 akhirnya kereta api Sawunggaluh II tiba di stasiun Jatinegara walau agak terlambat 20 menit dari jadwal sebenarnya. Perjalanan kereta api siang itupun kami nikmati, langit yang cerah, cuaca yang panas semakin membuat gerbong kereta gerah. Belum ditambah asap rokok penumpang kereta yang duduk di sebelahku , dengan gaya ego dan santainya menghisap asap rokok tanpa menghiraukan penumpang lainnya. Bangga ya bisa mengganggu kenyamanan penumpang lainnya dengan asap rokok, seru hatiku..!
Gerbong gerah dan panas kami nikmati hingga kawasa Cirebon, namun selebihnya cuaca cerah hawa yang dingin mengiringi kami siang itu hingga di Jogja. Rasha rovian azra tidak terlalu rewel, namun nampak raut wajah kecapekan dalam tubuhnya. Kamipun harus sabar dan berhati-hati meladeninya karena usianya baru 6 bulan. Ini adalah perjalanan Rasha untuk yang kesekian kalinya dan hal ini ternyata juga untuk melatih ketahanan tubuhnya. Dalam perjalanan terhitung 1 kali beol dan 2 kali makan dan hal komunikatifnya Rasha selalu mengajak senyum siapa saja yang dia temui, entuh anak-anak, muda-mudi maupun ibu-ibu dan bapak-bapak. Dia berusaha untuk ngoceh dan sangat senang jika diliatin gambar di koran.
Pukul 17.10 alhamdulillah akhirnya sampai juga di stasiun Kutoarjo dan selanjutnya membeli tiket Prambanan Express (PRAMEX) jurusan Kutoarjo – Jogjakarta yang berangkat pukul 17.40 wib. Sekilas kereta Pramex ini hampir mirip dengan busway, pintu yang menutup dan membuka secara otomatis dan memiliki warna dominan hijau muda. Perjalanan yang lancar karena menggunakan double trek jalur kereta Kutoarjo – Jogjakarta. Kereta ini akan berakhir di Solo.
Satu jam perjalanan, akhirnya pukul 18.35 kamipun sampai di stasiun Tugu Jogjakarta. Para penjual jasa transportpun mulai beraksi sesaat kami keluar dari stasiun. Ojek…ojek…! Becak…..becak..! Taksi..taksi..! , namun tidak ada satupun yang saya pilih, mengapa? Karena kami pengen jalan-jalan di Malioboro dulu untuk membeli baju dan celana khas Jogjakarta. Nampak para turis asing wira wiri di kawasan Malioboro ini. Senang hatiku para turis ini berkunjung ke Jogjakarta, karena secara tidak langsung perekonomian berjalan di sini. Ayo berkunjung ke Indonesia…! Jangan takut…! Setelah membeli baju kamipun berhenti sejenak untuk foto-foto. Setelah tanganku gempor karena harus membawa 3 tas berat-berat, di depan, samping kiri dan kanan. Taksipun berhenti…! Nego harga Rp.50.000,- dan akhirnya harga jadi Rp.60.000,-. Ternyata hitungan argo hanya Rp 50.000,- namun sesuai nego kami harus bayar Rp 60.000,-. Ya kami ikhlas membayar, sedikit berbagi, sebagai pengalaman dikemudian hari, semoga penuh barokah, amien. Alhamdulillah… Pukul 19.30 akhirnya sampai di rumah orang tuaku.