The first me like media

The first me like media

Ya sejak aku masih SD*1993 mulai kelas 5 aku mengenal yang namanya majalah dinding. Ya waktu itu aku mulai mengetik dengan mesin tik manual untuk ditempel di mading masjid. Saat itu aku sudah mengetik dengan format kolom seperti layaknya koran. Untuk foto aku belum menggunakan, karena saat itu memang aku belum punya kamera apapun. Tulisan yang aku ketik terkadang aku sisipin foto dari memotong sebuah foto yang aku anggap menarik dari sebuah koran atau majalah saat itu. Setelah selesai mengetik dan mendesain aku kemudian menfoto kopinya untuk dipebanyak kemudian dibagikan keteman-teman dan ditempel di mading masid.

Menginjak masuk SLTP*1995 saat kelas 3 SLTP aku sangat suka yang namanya mengarang dan sering membaca artikel di harian Kedaulatan rakyat yang beredar luas di kota Yogyakarta. Dan aku mulai tertarik mengirimkan sebuah tulisan ke koran. Pertama aku menulis sebuah pertanayaan singkat dengan bahasa puisu sepanjang empat baris dengan kalimat yang singkat. Dan ternyata dimuat di koran lokal saat itu. Saudara yang langganan koranpun mengetahui bahwa puisiku dimuat dan ternyata berhak mendapatkan sebuah hadiah. Setelah mengetahui itu akupun meluncur ke kantor redaksi koran tersebut dengan ditemani kakakku. Setiba di kantor pertama di jalan solo ternyata salah tempat, karena pengambilan hadiah di jalan Mangkubumi Yogyakarta. Ya 15.000 rupiah aku dapatkan saat itu saat harga bensin masih 500,- dan miayam 250,-. Uang 15.000 rupiah itu aku belikan tuner fm, ampli, adaptor dan kabel untuk merangkai sebuah radio yang kemudian radio itu aku tinggal di koprasi masjid untuk mengetahui waktu tanda berbuka puasa saat itu. Aku seneng bisa berguna bagi orang lain walau hanya sediki dan yang terpenting halal.

Menginjak masuk SMK aku benar-benar hanya fokus ke sekolah dan tidak punya kegiatan apapun. Aku merasa sendiri dan tak berart. Aku bahkan harus mengumpulkan uang sakuku untuk membayar sekolahku saat itu. Aku mengayuh sepeda hampir 50km pulang pergi selama 3 tahun. Hanya 3 kali selama 3 tahun aku naik bus ke sekolah. Jam 4 bangun, masak dan jam 5 berangkat ke sekolah dengan sepeda onthelku. Ya aku harus prihatin, karena orang tuaku hanya seorang petani desa yang miskin. Sementara ibuku sakit-sakitan mulai 1996 hingga sekarang. Sementara adikku ada 4, 2 laki dan 3 perempuan. Hingga sekarang ke lima anak-anak ini harus hidup mandiri. Da kalau bisa membantu orang tua. Sejak itulah aku mulai malas menulis dan bergelut dengan media dengan segala keterbatasan. Aku bersyukur saja.

Lulus SMK aku sempat ngangur 1 tahun kemudian dibawa kerja ke Jakarta dan pindah di Bogor*2002. Aku mulai mengirimkan sebuah foto ke tabloid MQ dan akhirnya dimuat dengan mendapatkan honor 55.000,- alhamdulillah. Ya hanya satu itu pengalaman mediaku dari 2002 hingga 2004 selebihnya sibuk dengan kerja di pabrik sebagai teknisi listrik. Tahun 2004, bulan Oktober tepatnya aku pindah kerja di Jakarta. Dan akhirnya bisa membeli kamera digital pertamaku pada 2005 untuk mengekspresikan segala moment yang ada. 2007 aku mulai memasukkan ke koran Republika dan akhirnya dimuat dengan honor 75.000,- per foto. Namun sekarang tidak ada lagi honor dari Republika. Kemudian 2008 di iwitness Metro tv, kompas tv, detik foto, kabarindonesia.com, kompas images, wikimu.com dan juga iReport di CNN. “I like citizen jurnalism” , karena aku ingin belajar jurnalistik. Aku juga suka dunia media dan broadcasting. Semoga cita-citaku tercapai, amie.

Leave a Reply