Ayo kita ke sekolahan bareng-bareng..
Yusuf, ari, anto udah menunggu, kata Sumar. Ya setiap pagi aku dan teman-teman yang sekolah di Taman Kanak Kanak ABA V Tlengongan berangkat bersama menyusuri sawah menuju desa lain. Karena desaku dengan TK ABA V dipisahkan oleh sawah yang membentang luas. Termasuk melewati sawah orang tuaku tercinta, karena dari sawah itu aku sekolahkan, dan di nafkahi segala kebutuhanku. Pukul 06.30 aku dan teman-teman berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Pukul 07.00 kamipun sampai di sekolahan dan bertemu dengan bu guru namanya bu Fatimah dan yang satunya aku lupa namanya.
Marilah teman-teman sebelum kita belajar kita berdoa bersama-sama “Bismillahirahmanirahim, rodi tu billa hirraba wa bil islam midina wa bi muhammadina biya wa rasullaa robbi yidni fihma war yukni fahma, amin”
Selesai berdoa kegiatan belajar ala TK saat itupun dimulai. Belajar mengaji, berhitung, menulis dan bermain. Sumar temenku saat itu sedang bermain ayunan yang terbuat dari bambu kedua tiang penyangganya dan ban karet bekas ban mobil di kasih tali sebagai tempat duduk ayunan. Gubrak, ternyata ayunannya ambruk dan sumarpun menangis karena pantatnya terbentur tanah dengan keras. Bermain ayunan, meniup balon, makan bubur kacang hijau, berlatih drama-dramaan dan lain sebagainya biasanya berlangsung tiap hari jumat. Saat berlatih drama waktu itu temenku bernama ridwan di jadikan sang calon pengantin dengan di jodohkan temen wanita yang aku juga lupa namanya. Wah baru TK saja sudah mengenal jodoh-jodohan ya…!
Pulang sekolah pukul 10.30 yusuf namanya adu aksi dengan menendang pagar yang terbuat dari batu bata dengan semen tanah liat. Brul… Ambruklah pagar itu dan sang empunyapun marah.. Lari…
Akhirnya kita lari dan kembali pulang ke rumah dengan menyusuri sawah dan ladang. Saat itu sempat mendengar kalau kita lewat sawah siang-siang bisa cacingan lho. Akhirnya sejak itu kita berangkat ke sekolah melewati jalan yang ada yang jauh lebih panjang dan melelahkan.
Setiap pulang sekolah kamipun masih sering bertemu dengan bermain bersama dan kadang aku yang saat itu berusia 7tahun belajar bertani dengan ikut ke sawah ayahku dan juga simbaku. Ya selain belajar di sekolah ternyata secara tidak sadar aku mendapat pelajaran di sawah dan juga teman-teman lingkunganku. Bermain bersama saat itu yang paling seru adalah palang merah, petak umpet dan bentik*.
—-NEXT—-